Jakarta. Kemarin pagi, saya dikejutkan telepon Dr. Daniel, teman saya di Yakkum, yang kini menjadi Ketua Umum Pelkesi, menginformasikan bahwa Dr. Adi Sutjipto, SKM (mantan Sekretaris Umum Yakkum) dipanggil Tuhan, dan diberi petunjuk hal-hal yang perlu dilakukan sekretariat Pelkesi, seperti menghubungi kolega dan unit-unit Pelkesi ataupun mengirim karangan bunga dukacita. Karena alm, pernah menjadi pengurus Yakkum dan periode terakhir (tahun 2008) sebagai anggota badan pertimbangan (penasehat, pen).
Berita ini, selanjutnya saya konfirmasikan kepada teman-teman di Yakkum (Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum), Solo, untuk mengetahui waktu meninggal dan dimana. Karena alm. bekerja lama di lembaga ini sampai pensiun, terakhir sebagai sekretaris umum. Oleh kawan-kawan di Yakkum, disebutkan bahwa alm. meninggal di RS Kasih Ibu Solo, dan sudah berbaring dirawat beberapa hari sebelumnya, untuk cuci darah. Informasi tersebut tidak terlalu mengejutkan lagi karena alm. sudah lama menderita diabetes-mellitus, ketika memimpin sekretariat Yakkum.
Proses perjumpaan dengan alm. dan menjadi bagian dengan pelayanan Yakkum, berawal dari rekrutmen saya menjadi salah seorang staf di Yakkum dan ditempatkan di Biro Perencanaan Kantor Yakkum. Sebelumnya saya sudah menjadi relawan di CD/UPKM RS Bethesda. Kemudian dikontrak di Badan Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan (Bandiklitbang UPKM Yakkum). Saya membantu kami untuk mengkoordinasikan dan mengembangkan pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam bidang perencanaan dan pengembangan.
Saya memiliki background pendidikan di bidang teknik. Untuk menambah rasa percaya diri dan kemampuan, atas rekomendasi dan persetujuan alm, saya mengikuti short course di Asian Insitute Management (AIM), Filipina. Itu kesempatan yang belum diberikan kepada staf di Kantor Yakkum sebelumnya. Selanjutnya, saya diperkenalkan dengan Pelkesi. Sebenarnya lembaga ini tidak begitu asing bagi saya, karena fungsionaris-nya, seperti Dr. Guno Samekto (alm), Paulus Santoso (sekarang di Australia), Sigit Wijayanta, dan lain-lain adalah senior dan teman di organisasi ekstra-kampus: GMKI. Selanjutnya saya diberi kesempatan sekolah S2 di Magister Manajemen RS, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
Saya banyak membantu dalam mempersiapkan bahan-bahan ceramah dan data perkembangan pelayanan kesehatan, khususnya masyarakat, baik nasional maupun internasional. Berbagai pertemuan Pelkesi saya ikuti, dan juga dipromosikan di kelompok kerja pelayanan kesehatan. Walaupun pada saya dipercaya dan diminta menjadi Direktur Eksekutif Pelkesi, bukan pada periodenya karena alm. telah pensiun, tetapi cukup memberi dorongan untuk menduduki posisi tersebut.
Pada waktu acara Munas VII Pelkesi tahun 2008 (September), alm. mengatakan, mungkin ini terakhir saya mengikuti acara Pelkesi secara nasional. Mungkin ini kata perpisahannya terhadap Pelkesi. Karena pada saat itu, dia sedang sakit dan sedang dalam proses perawatan. Dia tetap mendorong saya untuk melanjutkan tugas sebagai Direktur Eksekutif.
Walaupun dalam banyak hal, saya juga berbeda pendapat dengannya, tetapi tidak menyurutkan atensi dukungan kepada saya. Salah satu perbedaan itu, ketika saya berminat menjadi Direktur UPKM Yakkum, tidak direstui. Terakhir pada waktu beakhirnya tugas sebagai Sekretaris Umum Yakkum, sesudah Musyawarah Kerja (MUKER) Yakkum--forum tertinggi pengambilan keputusan organisasi Yakkum, alm. masih berkeinginan dan berharap untuk melanjutkan 1 periode lagi atau minimal beberapa tahun, mempersiapkan penggantinya, saya sebagai staf di sekretariat, diminta pendapat atau mungkin lebih tepat sharing. Dan saya mengatakan terus-terang mengatakan bahwa itu peluangnya kecil dan tidak realistis. Sebab pimpinan GKJ dan GKI yang memiliki Yakkum, tidak memberi restu kepadanya. Sebenarnya staf lain yang lain berpendapat seperti itu, tetapi tidak berani mengatakan secara terus terang, karena ewuh-pakewuh. Walau mengecewakan atas masukan saya, tetapi dalam pertemuan-pertemuan berikutnya di berbagai forum, alm. mengatakan masukan itu sangat dihargai dan tetap respek terhadap saya.
Terima kasih Pak Tjip, Selamat jalan. Perhatian dan dorongan terhadap saya, tidak akan saya lupakan. Cita dan semangat itu tetap saya lanjutkan kapan saja dan dimana saja. (***)
2.6.09
26.5.09
PERTEMUAN DENGAN BUPATI DENGAN MASYARAKAT NIAS BARAT
Jakarta. Kemarin malam, 26 Mei 2009, Bupati Nias Barat, yaitu Faduhusi Daeli, S.Pd. yang dilantik sebagai pejabat bupati di Depdagri pagi harinya, bertemua dengan masyarakat Nias Barat, yang berada di Jakarta, yang juga dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat Nias Barat, baik dari Medan dan Gunung Sitoli, yang kebetulan menghadiri pelantikan tersebut.
Pada pertemuan ini, bupati memperkenalkan diri bersama dengan keluarga (Ibu), baik asal kampung, pengalaman bekerja dan kiprah selama ini. Juga menyampaikan bahw tugas utama sebagai pelaksana tugas bupati, yaitu: menata tata laksana pemerintahan (struktur dan personil)dan mempersiapakn Pilkada (pemilihan kepala daerah). Masa kerja adalah 1 tahun, artinya dalam 1 tahun, Nias Barat sudah memeliki kepemimpinan definitif.
Faduhusi Daeli, yang juga sering dipanggil Ama Ester Daeli, mengharapkan dukungan dan kerjasama dari masyarakat Nias, dimanapun berada, keahlian dan pendidikan untuk membantu dan mensukseskan kemajuan Nias Barat. Karena hanya mengandalkan tenaga-tenaga yang sekarang di Nias, harapan pengembangan daerah ini tidak bisa optimal. Beliau mengundang orang Nias Barat di Jakarta, Medan atau dimanapun, bila berkeinginan bekerja di Nias, segera menginformasikan kepadanya. Beliau bisa dihubungi sewaktu-waktu, baik melalui SMS ataupun surat.
Ibu kota Kabupaten Nias Barat, yaitu Onolimbu memiliki fasilitas yang sangat minim. Namun demikian, tidak menyurutkan semangat untuk memulai pemerintahan, sebab kita sekarang bekejaran dengan waktu. Kita akan meminjam atau menempati sekolah-sekolah atau balai desa, bahkan rumah penduduk, tentunya bila diijinkan untuk memulai aktivitas. Karena itu, telah disepakati dengan keluarga untuk segera tinggal di ibu kota kabupaten tersebut.
Peserta yang hadir, sekitar 100 orang, menyepakati untuk mendukung sepenuhnya kepemimpinan bupati. (***)
Pada pertemuan ini, bupati memperkenalkan diri bersama dengan keluarga (Ibu), baik asal kampung, pengalaman bekerja dan kiprah selama ini. Juga menyampaikan bahw tugas utama sebagai pelaksana tugas bupati, yaitu: menata tata laksana pemerintahan (struktur dan personil)dan mempersiapakn Pilkada (pemilihan kepala daerah). Masa kerja adalah 1 tahun, artinya dalam 1 tahun, Nias Barat sudah memeliki kepemimpinan definitif.
Faduhusi Daeli, yang juga sering dipanggil Ama Ester Daeli, mengharapkan dukungan dan kerjasama dari masyarakat Nias, dimanapun berada, keahlian dan pendidikan untuk membantu dan mensukseskan kemajuan Nias Barat. Karena hanya mengandalkan tenaga-tenaga yang sekarang di Nias, harapan pengembangan daerah ini tidak bisa optimal. Beliau mengundang orang Nias Barat di Jakarta, Medan atau dimanapun, bila berkeinginan bekerja di Nias, segera menginformasikan kepadanya. Beliau bisa dihubungi sewaktu-waktu, baik melalui SMS ataupun surat.
Ibu kota Kabupaten Nias Barat, yaitu Onolimbu memiliki fasilitas yang sangat minim. Namun demikian, tidak menyurutkan semangat untuk memulai pemerintahan, sebab kita sekarang bekejaran dengan waktu. Kita akan meminjam atau menempati sekolah-sekolah atau balai desa, bahkan rumah penduduk, tentunya bila diijinkan untuk memulai aktivitas. Karena itu, telah disepakati dengan keluarga untuk segera tinggal di ibu kota kabupaten tersebut.
Peserta yang hadir, sekitar 100 orang, menyepakati untuk mendukung sepenuhnya kepemimpinan bupati. (***)
Labels:
Nias
25.5.09
MARAK PENCURIAN BATU MEGALHIT DI NIAS
Awal Mei ini, saya berkunjung ke Nias untuk kunjungan kerja, terkait dengan program pengembangan dan penguatan organisasi kader kesehatan masyarakat yang difasilitasi Pelkesi (Persekutuan Pelayanan Kristen Untuk Kesehatan di Indonesia) pada tahun-tahun lalu. Pada kesempatan tersebut, saya mengunjungi kampung kelahiran, dimana orang tua dan keluarga besar tinggal. Betapa mengejutkan, saya mendapat informasi bahwa batu megalithikum (gowe, bahasa Nias) telah dicuri orang.
Gowe ini sepasang, terdiri dari laki-laki dan perempuan, yaitu patung yang didirikan oleh para leluhur dari kampung Durunaya'a dan Lasara, Desa Tiga Serangkai, Kecamatan Lahomi, Kabupaten Nias Barat. Batu megalithikum ini sangat sedikit didapatkan di nusantara. Dari sedikit itu, Pulau Nias salah satu tempatnya.
Menurut para ahli batu megalithikum ini merupakan tempat ritual keagamaan para leluhur untuk meminta berkat, keselamatan dan kesuksesan pada waktu itu. Dalam ritual itu, berbagai korban sajian dipersembahkan.
Proses pencurian pasangan baru itu, diduga dilaksanakan oleh 2 kelompok-pelaku. Untuk gowe perempuan sudah ada yang mengaku, sedangkan yang laki-laki belum.
Pelaku untuk pencurian gowe perempuan dilaksanakan oleh keluarga dekat dari dua-kampung itu. Karena itu penyelesaiannya dan perdamaian dilaksanakan para tetua adat, yaitu menanam kembali patung itu pada waktu dipindahkan, membayar ganti-rugi biaya pencarian batung tersebut hingga ketemu, dan kebutuhan pada saat penanaman kembali tersebut, serta pada acara itu, yang bersangkutan hadir. Kesepakatan perdamaian ditanda-tangani para pihak, dan disaksikan oleh Kepala Desa. Hanya saja kesepakatan tersebut tidak ditaati pada hari yang disepakati. Alasan yang dipakai adalah perdamaian dan surat tersebut sudah ditangan pelaku.
Berdasarkan itu, para tetua menyepakati untuk meneruskan proses pencurian tersebut ke pihak berwajib. Sebab mereka menyadari bahwa batu megalithikum itu adalah benda purbakala, yang dilindungi undang-undang. Bahwa perdamaian itu dilaksanakan hanya mengurangi hukuman pidana yang bersangkutan, bila terbukti bersalah di pengadilan. (***)
Gowe ini sepasang, terdiri dari laki-laki dan perempuan, yaitu patung yang didirikan oleh para leluhur dari kampung Durunaya'a dan Lasara, Desa Tiga Serangkai, Kecamatan Lahomi, Kabupaten Nias Barat. Batu megalithikum ini sangat sedikit didapatkan di nusantara. Dari sedikit itu, Pulau Nias salah satu tempatnya.
Menurut para ahli batu megalithikum ini merupakan tempat ritual keagamaan para leluhur untuk meminta berkat, keselamatan dan kesuksesan pada waktu itu. Dalam ritual itu, berbagai korban sajian dipersembahkan.
Proses pencurian pasangan baru itu, diduga dilaksanakan oleh 2 kelompok-pelaku. Untuk gowe perempuan sudah ada yang mengaku, sedangkan yang laki-laki belum.
Pelaku untuk pencurian gowe perempuan dilaksanakan oleh keluarga dekat dari dua-kampung itu. Karena itu penyelesaiannya dan perdamaian dilaksanakan para tetua adat, yaitu menanam kembali patung itu pada waktu dipindahkan, membayar ganti-rugi biaya pencarian batung tersebut hingga ketemu, dan kebutuhan pada saat penanaman kembali tersebut, serta pada acara itu, yang bersangkutan hadir. Kesepakatan perdamaian ditanda-tangani para pihak, dan disaksikan oleh Kepala Desa. Hanya saja kesepakatan tersebut tidak ditaati pada hari yang disepakati. Alasan yang dipakai adalah perdamaian dan surat tersebut sudah ditangan pelaku.
Berdasarkan itu, para tetua menyepakati untuk meneruskan proses pencurian tersebut ke pihak berwajib. Sebab mereka menyadari bahwa batu megalithikum itu adalah benda purbakala, yang dilindungi undang-undang. Bahwa perdamaian itu dilaksanakan hanya mengurangi hukuman pidana yang bersangkutan, bila terbukti bersalah di pengadilan. (***)
Labels:
Nias
KOMUNITAS RS KRISTEN
Upaya mempertahankan dan mengembangkan eksistensi RS Kristen terus-menerus menjadi pergumulan dari waktu ke waktu. Bukan hanya untuk mempertahankan keberadaan sebagaimana didirikan para misionaris (zendling) pada mulanya, ataupun kalau berkembang, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi diarahkan kepada komitmen dan kekonsistenan melaksanakan misi dan tugas gereja, yaitu melayani (diakonia); meringankan, bahkan membebaskan manusia dari penderitaan.
Bagi masyakat umum, termasuk jemaat, pemahaman tugas pelayanan, diartikan bahwa penyelenggaan pelayanan kesehatan oleh RS Kristen adalah penuh kasih, ramah, penuh dedikasi, bersedia melayani tanpa “pamrih”, dan yang murah serta bermutu, bahkan kalau perlu gratis. Pemahaman ini telah menjadi citra (branded image) RS Kristen, sehingga kalau ada pengobatan dan perawatan di RS dengan biaya besar, selalu ditafsirkan bahwa RS Kristen telah menjadi komersial, menyimpang dari misi gereja.
Sebenarnya para misionaris memperkenalkan pelayanan kesehatan dengan pengetahuan dan teknologi dari “barat”, membutuhkan dana yang besar dan biaya tinggi. Hanya saja dana ini ditanggung oleh organisasi misionaris. Menjadi persoalan ketika para misionaris ini menyelesaikan tugas dan kembali ke negaranya, tugas penyelenggaraan diserahkan, diambil-alih dan diteruskan kepada jemaat lokal atau lembaga yang dibentuk itu, termasuk pendanaan. Akan tetapi kenyataan, sumber pendanaan alternatif—selain pasien—terbatas. Padahal pengetahuan, teknologi kedokteran, sarana dan prasarana di RS, yang semuanya itu memerlukan dana besar.
Perubahan tidak dapat dihindari, proaktif dan antisipatif terhadap kondisi demikian, mesti dilakukan. Karena itu manajemen RS Kristen berusaha mengembangkan strategi mendapatkan alternatif pendanaan. Sebab kalau tidak, pasien atau masyarakat beralih kepada RS lain, yang memiliki keunggulan kompetitif dari RS Kristen. Di beberapa RS Kristen pengembangan strategi ini cukup efektif; menjadi market-leader atau paling tidak terap eksis. Di beberapa RS lain, langkah-langkah ini kurang berhasil; diperhadapkan dengan hal-hal kekurangan SDM, khususnya spesialis, dan sarana penunjang yang kurang memadai dilihat dari perkembangan teknologi kedokteran dan penyakit.
Kekurang-berhasilan itu dapat disebutkan sebagai kendala yang tidak dapat dipecahkan dengan strategi-strategi, karena bersifat kebijakan dan bersifat struktural (sistemik). Sebagai kasus, misalnya tenaga kesehatan profesional, yaitu dokter dan spesialis, penempatan tidak merata, apalagi di daerah-daerah terpencil. Sangat sedikit RS Kristen sekarang ini, yang dapat memenuhi kebutuhan spesialis ini. Para profesional ini, umumnya cenderung melayani di kota-kota besar karena berbagai faktor. Disamping pertimbangan kebutuhan finansial dan perolehan (return) atas “investasi” selama pendidikan, tetapi juga karena di daerah, sarana dan prasarana yang mendukung tugas profesional terbatas, bahkan mungkin tidak ada. Artinya pelayanan tidak dapat dilaksanakan secara optimal. Biaya pendidikan spesialis juga juga tinggi, dan ketentuan pemerintah yang hanya mengijinkan penyelenggaraannya di perguruan tinggi negeri (PTN), yang semua upaya-upaya ini, sebagian besar ditafsirkan sebagai investasi, yang pada suatu waktu akan didapatkan penggantinya; kembali pokok.
Karena ketidak-tepatan strategi dan kendala seperti itu, eksistensi RS Kristen mendapatkan tantangan yang serius. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan, dimana sarana dan prasarana, dan SDM apa adanya misi gerejawi yang diemban, pasti berjalan apa adanya juga, tidak optimal, dan lebih dikesankan hanya mengelola “aset” peninggalan sejarah (para misionaris). Bertolak belakang dengan pelayanan yang dilaksanakan Tuhan Yesus ketika bersama murid-muridNya, selalu memberikan yang terbaik kepada para pengikut dan masyarakat pada saat itu.
MEMBANGUN BERSAMA DALAM PERSEKUTUAN
Upaya menghadapi situasi yang demikian, salah satunya menjadi latar belakang pembentukan Pelkesi (Persekutuan Pelayanan Kristen Untuk Kesehatan di Indonesia). Pada awalnya kata yang digunakan untuk “persekutuan” adalah “persatuan”. Tetapi karena “persatuan” lebih dikesankan pada organisasi yang bersifat stuktural dan hierarkis, yang bukan menjadi karakter dan sifat dalam membangun kebersamaan, maka kata itu diganti menjadi “persekutuan”, yang diharapkan nantinya, dapat menghimpun semua potensi gereja untuk mengoptimalkan pelayanan di sektor kesehatan.
Pelkesi menjadi forum komunikasi dan koordinasi pelayanan kesehatan, serta mendorong RS yang relatif sudah berkembang (dan tua) menjadi pendamping RS yang belum berkembang. Sentra-sentra pendampingan dibentuk, antara lain RS PGI Cikini (Jakarta) dan RS Bethesda (Yogyakarta). Disamping itu juga dikembangkan konsep pelayanan kesehatan yang berbasis masyarakat, dan merevitalisasi konsep pelayanan gereja yang menyembuhkan (healing church). Konsep-konsep ini diharapkan terintegrasi dalam pelayanan di RS dan tertransformasi itu kepada masyarakat dan jemaat.
RS PGI Cikini merespon pendampingan itu bekerja sama dengan sinode gereja, antara lain: Sinode Gereja HKBP mendampingi RS HKBP Balige, sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) mengembangkan pelayanan RS GPM Ambon, sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) mengembangan RS Ibu dan Anak Umbu Manekan di So’e, dan sinode Gereja Toraja dengan RS Elim. RS Bethesda Yogyakarta mengembangkan pelayanan kesehatan RS Tanpa Dinding (hospital without wall) sebagai pengembangan konsep pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. RS Kristen lain yang juga mengembangkan pelayanan ini adalah RS Bethesda Tomohon, RS Bethesda Saribudolok, Simalungun dan RS Emanuel Klampok Banjarnegara.
Konsep sentra pendampingan menjadi model program-program Pelkesi kemudian. Konsep-konsep ini ditransformasikan kepada RS Kristen dan institusi pelayanan kesehatan lainnya, juga dengan individual, seperti pelayanan kesehatan primer, air bersih, sanitasi lingkungan, bahkan ketika terjadi bencana alam juga melibatkan diri untuk penanggulangan bencana, termasuk advokasi. Untuk institusi RS dikembangkan paket-paket pelatihan manajemen dan kepemimpinan, kualitas pelayanan dan akreditasi, seminar dan lokakarya. Di institusi pendidikan, yaitu akademi perawat, kebidanan, paket-paket seperti ini juga dilaksanakan. Kegiatan lain, antara lain pertemuan-pertemuan lintas institusi dan fokus pelayanan juga dilaksanakan, tidak hanya nasional tetapi juga di wilayah, antara lain Rapat Kerja Wilayah, Rapat Kerja Nasional, Musyawarah wilayah, dan Musyawarah Nasional.
Akan tetapi model sentra itu tetap menyisakan banyak pertanyaan dalam kerangka pengembangan visi dan misi bersama serta strategi RS Kristen. Pertanyaan berkisar pada hasil dan dampak. Misalkan hasil setelah 25 tahun berhimpun bersama terhadap eksistensi RS Kristen. Begitu banyak pelatihan dan seminar dilaksanakan, yang walaupun tingkat entusiasme tinggi dan yang hadir juga demikian banyak, mengapa tetap muncul pertanyaan terhadap eksistensi RS Kristen.
Karena itu pada Munas VI di Yogyakarta tahun 2003 muncul gagasan untuk membentuk “kamar” sendiri bagi insitusi RS Kristen dalam wadah Pelkesi, untuk membicarakan dan merumuskan langkah-langkah mempertahankan dan mengembangkan eksistensi tersebut. Gagasan itu, kemudian diformulasikan sistem kelembagaan dalam bentuk Kluster (cluster) RS sebagai bagian kelengkapan Pelkesi.
Formula ini cukup menggembirakan, yang antara lain ditandai dengan kegiatan perumahsakitan lebh sering dilaksanakan dengan fokus bahasan yang bervariasi baik pada level nasional maupun wilayah. Sharing antara RS berlangsung dinamis. Betapapun demikian tetap memunculkan pertanyaan seperti diatas: hasil dan dampak bagi internal masing-masing RS.
KOMUNITAS RUMAHSAKIT KRISTEN
Menggunakan terminologi yang biasa digunakan dalam sosiologi, komunitas merupakan upaya pengelompok berdasarkan kesamaan minat, masalah dan tantangan bersama. Di dalam nya memuat sejumlah nilai dan prinsip serta sistem yang dibangun sebagai acuan gerak (pelayanan). Beberapa contoh bentuk dan model komunitas ini, seperti komunitas pembaca, usia lanjut, masyarakat tertinggal, atau komunitas Kristen. Pada level yang lebih besar, seperti masyarakat ekonomi Eropa, masyarakat ASEAN. Dengan kata lain, penggunaan konsep ini sudah demikian meluas, mulai pada skala kecil sampai kepada skla besar.
Dengan mengadopsi konsep tersebut, RS Kristen dapat mengembangkan Komunitas RS Kristen sebagai sebuah entitas dalam komunitas gereja ataupun pelayanan kesehatan, lintas wilayah dan denominasi. Dalam komunitas ini dibangun visi bersama dan strategi utama (grand strategy) RS Kristen. Ini yang belum kita miliki selama ini, sehingga kegiatan yang berkaitan dengan RS, baik yang diselenggarakan oleh cluster RS hanya merupaka aktivitas yang bersifat fragmented walaupun tetap kontekstual, tetapi tidak mengerucut pada pencapaian sesuatu. Karena belum terumuskan itu dengan baik, kita dikesankan kegiatan yang satu dengan yang lain kurang berkaitan dan tidak berkesinambungan. Dari perumusan itu, kemudian dikembangkan dengan sejumlah nilai dan prinsip, sebagai rambu-rambu yang harus diperhatikan untuk melaksanakan visi-misi itu. Baru disepakati sistem yang mendukung upaya tersebut, sebagai upaya melembagakan komunitas bersama.
Pengembangan konsep ini tidak mudah memang, karena kepelbagaian RS Kristen, baik itu kepemilikan, sejarah, tipe dan ragam pelayanan. Tetapi itu tidak menjadi hambatan yang berarti bila ada komitmen bersama. Sebab komunitas ini tidak meniadakan kepemilikan atau pun sejarah masing-masing RS, tetapi sebaiknya mendorong untuk bertumbuh bersama.
Pertemuan RS Kristen pada bulan Mei 2009, hendaknya menjadi strating point untuk mengkaji dan mewacanakan gagasa tesebut. Dengan demikian, RS Kristen akan bergerak ke arah yang jelas dengan langgam kerja (action plan) yang terstuktur.(***)
Bagi masyakat umum, termasuk jemaat, pemahaman tugas pelayanan, diartikan bahwa penyelenggaan pelayanan kesehatan oleh RS Kristen adalah penuh kasih, ramah, penuh dedikasi, bersedia melayani tanpa “pamrih”, dan yang murah serta bermutu, bahkan kalau perlu gratis. Pemahaman ini telah menjadi citra (branded image) RS Kristen, sehingga kalau ada pengobatan dan perawatan di RS dengan biaya besar, selalu ditafsirkan bahwa RS Kristen telah menjadi komersial, menyimpang dari misi gereja.
Sebenarnya para misionaris memperkenalkan pelayanan kesehatan dengan pengetahuan dan teknologi dari “barat”, membutuhkan dana yang besar dan biaya tinggi. Hanya saja dana ini ditanggung oleh organisasi misionaris. Menjadi persoalan ketika para misionaris ini menyelesaikan tugas dan kembali ke negaranya, tugas penyelenggaraan diserahkan, diambil-alih dan diteruskan kepada jemaat lokal atau lembaga yang dibentuk itu, termasuk pendanaan. Akan tetapi kenyataan, sumber pendanaan alternatif—selain pasien—terbatas. Padahal pengetahuan, teknologi kedokteran, sarana dan prasarana di RS, yang semuanya itu memerlukan dana besar.
Perubahan tidak dapat dihindari, proaktif dan antisipatif terhadap kondisi demikian, mesti dilakukan. Karena itu manajemen RS Kristen berusaha mengembangkan strategi mendapatkan alternatif pendanaan. Sebab kalau tidak, pasien atau masyarakat beralih kepada RS lain, yang memiliki keunggulan kompetitif dari RS Kristen. Di beberapa RS Kristen pengembangan strategi ini cukup efektif; menjadi market-leader atau paling tidak terap eksis. Di beberapa RS lain, langkah-langkah ini kurang berhasil; diperhadapkan dengan hal-hal kekurangan SDM, khususnya spesialis, dan sarana penunjang yang kurang memadai dilihat dari perkembangan teknologi kedokteran dan penyakit.
Kekurang-berhasilan itu dapat disebutkan sebagai kendala yang tidak dapat dipecahkan dengan strategi-strategi, karena bersifat kebijakan dan bersifat struktural (sistemik). Sebagai kasus, misalnya tenaga kesehatan profesional, yaitu dokter dan spesialis, penempatan tidak merata, apalagi di daerah-daerah terpencil. Sangat sedikit RS Kristen sekarang ini, yang dapat memenuhi kebutuhan spesialis ini. Para profesional ini, umumnya cenderung melayani di kota-kota besar karena berbagai faktor. Disamping pertimbangan kebutuhan finansial dan perolehan (return) atas “investasi” selama pendidikan, tetapi juga karena di daerah, sarana dan prasarana yang mendukung tugas profesional terbatas, bahkan mungkin tidak ada. Artinya pelayanan tidak dapat dilaksanakan secara optimal. Biaya pendidikan spesialis juga juga tinggi, dan ketentuan pemerintah yang hanya mengijinkan penyelenggaraannya di perguruan tinggi negeri (PTN), yang semua upaya-upaya ini, sebagian besar ditafsirkan sebagai investasi, yang pada suatu waktu akan didapatkan penggantinya; kembali pokok.
Karena ketidak-tepatan strategi dan kendala seperti itu, eksistensi RS Kristen mendapatkan tantangan yang serius. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan, dimana sarana dan prasarana, dan SDM apa adanya misi gerejawi yang diemban, pasti berjalan apa adanya juga, tidak optimal, dan lebih dikesankan hanya mengelola “aset” peninggalan sejarah (para misionaris). Bertolak belakang dengan pelayanan yang dilaksanakan Tuhan Yesus ketika bersama murid-muridNya, selalu memberikan yang terbaik kepada para pengikut dan masyarakat pada saat itu.
MEMBANGUN BERSAMA DALAM PERSEKUTUAN
Upaya menghadapi situasi yang demikian, salah satunya menjadi latar belakang pembentukan Pelkesi (Persekutuan Pelayanan Kristen Untuk Kesehatan di Indonesia). Pada awalnya kata yang digunakan untuk “persekutuan” adalah “persatuan”. Tetapi karena “persatuan” lebih dikesankan pada organisasi yang bersifat stuktural dan hierarkis, yang bukan menjadi karakter dan sifat dalam membangun kebersamaan, maka kata itu diganti menjadi “persekutuan”, yang diharapkan nantinya, dapat menghimpun semua potensi gereja untuk mengoptimalkan pelayanan di sektor kesehatan.
Pelkesi menjadi forum komunikasi dan koordinasi pelayanan kesehatan, serta mendorong RS yang relatif sudah berkembang (dan tua) menjadi pendamping RS yang belum berkembang. Sentra-sentra pendampingan dibentuk, antara lain RS PGI Cikini (Jakarta) dan RS Bethesda (Yogyakarta). Disamping itu juga dikembangkan konsep pelayanan kesehatan yang berbasis masyarakat, dan merevitalisasi konsep pelayanan gereja yang menyembuhkan (healing church). Konsep-konsep ini diharapkan terintegrasi dalam pelayanan di RS dan tertransformasi itu kepada masyarakat dan jemaat.
RS PGI Cikini merespon pendampingan itu bekerja sama dengan sinode gereja, antara lain: Sinode Gereja HKBP mendampingi RS HKBP Balige, sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) mengembangkan pelayanan RS GPM Ambon, sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) mengembangan RS Ibu dan Anak Umbu Manekan di So’e, dan sinode Gereja Toraja dengan RS Elim. RS Bethesda Yogyakarta mengembangkan pelayanan kesehatan RS Tanpa Dinding (hospital without wall) sebagai pengembangan konsep pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. RS Kristen lain yang juga mengembangkan pelayanan ini adalah RS Bethesda Tomohon, RS Bethesda Saribudolok, Simalungun dan RS Emanuel Klampok Banjarnegara.
Konsep sentra pendampingan menjadi model program-program Pelkesi kemudian. Konsep-konsep ini ditransformasikan kepada RS Kristen dan institusi pelayanan kesehatan lainnya, juga dengan individual, seperti pelayanan kesehatan primer, air bersih, sanitasi lingkungan, bahkan ketika terjadi bencana alam juga melibatkan diri untuk penanggulangan bencana, termasuk advokasi. Untuk institusi RS dikembangkan paket-paket pelatihan manajemen dan kepemimpinan, kualitas pelayanan dan akreditasi, seminar dan lokakarya. Di institusi pendidikan, yaitu akademi perawat, kebidanan, paket-paket seperti ini juga dilaksanakan. Kegiatan lain, antara lain pertemuan-pertemuan lintas institusi dan fokus pelayanan juga dilaksanakan, tidak hanya nasional tetapi juga di wilayah, antara lain Rapat Kerja Wilayah, Rapat Kerja Nasional, Musyawarah wilayah, dan Musyawarah Nasional.
Akan tetapi model sentra itu tetap menyisakan banyak pertanyaan dalam kerangka pengembangan visi dan misi bersama serta strategi RS Kristen. Pertanyaan berkisar pada hasil dan dampak. Misalkan hasil setelah 25 tahun berhimpun bersama terhadap eksistensi RS Kristen. Begitu banyak pelatihan dan seminar dilaksanakan, yang walaupun tingkat entusiasme tinggi dan yang hadir juga demikian banyak, mengapa tetap muncul pertanyaan terhadap eksistensi RS Kristen.
Karena itu pada Munas VI di Yogyakarta tahun 2003 muncul gagasan untuk membentuk “kamar” sendiri bagi insitusi RS Kristen dalam wadah Pelkesi, untuk membicarakan dan merumuskan langkah-langkah mempertahankan dan mengembangkan eksistensi tersebut. Gagasan itu, kemudian diformulasikan sistem kelembagaan dalam bentuk Kluster (cluster) RS sebagai bagian kelengkapan Pelkesi.
Formula ini cukup menggembirakan, yang antara lain ditandai dengan kegiatan perumahsakitan lebh sering dilaksanakan dengan fokus bahasan yang bervariasi baik pada level nasional maupun wilayah. Sharing antara RS berlangsung dinamis. Betapapun demikian tetap memunculkan pertanyaan seperti diatas: hasil dan dampak bagi internal masing-masing RS.
KOMUNITAS RUMAHSAKIT KRISTEN
Menggunakan terminologi yang biasa digunakan dalam sosiologi, komunitas merupakan upaya pengelompok berdasarkan kesamaan minat, masalah dan tantangan bersama. Di dalam nya memuat sejumlah nilai dan prinsip serta sistem yang dibangun sebagai acuan gerak (pelayanan). Beberapa contoh bentuk dan model komunitas ini, seperti komunitas pembaca, usia lanjut, masyarakat tertinggal, atau komunitas Kristen. Pada level yang lebih besar, seperti masyarakat ekonomi Eropa, masyarakat ASEAN. Dengan kata lain, penggunaan konsep ini sudah demikian meluas, mulai pada skala kecil sampai kepada skla besar.
Dengan mengadopsi konsep tersebut, RS Kristen dapat mengembangkan Komunitas RS Kristen sebagai sebuah entitas dalam komunitas gereja ataupun pelayanan kesehatan, lintas wilayah dan denominasi. Dalam komunitas ini dibangun visi bersama dan strategi utama (grand strategy) RS Kristen. Ini yang belum kita miliki selama ini, sehingga kegiatan yang berkaitan dengan RS, baik yang diselenggarakan oleh cluster RS hanya merupaka aktivitas yang bersifat fragmented walaupun tetap kontekstual, tetapi tidak mengerucut pada pencapaian sesuatu. Karena belum terumuskan itu dengan baik, kita dikesankan kegiatan yang satu dengan yang lain kurang berkaitan dan tidak berkesinambungan. Dari perumusan itu, kemudian dikembangkan dengan sejumlah nilai dan prinsip, sebagai rambu-rambu yang harus diperhatikan untuk melaksanakan visi-misi itu. Baru disepakati sistem yang mendukung upaya tersebut, sebagai upaya melembagakan komunitas bersama.
Pengembangan konsep ini tidak mudah memang, karena kepelbagaian RS Kristen, baik itu kepemilikan, sejarah, tipe dan ragam pelayanan. Tetapi itu tidak menjadi hambatan yang berarti bila ada komitmen bersama. Sebab komunitas ini tidak meniadakan kepemilikan atau pun sejarah masing-masing RS, tetapi sebaiknya mendorong untuk bertumbuh bersama.
Pertemuan RS Kristen pada bulan Mei 2009, hendaknya menjadi strating point untuk mengkaji dan mewacanakan gagasa tesebut. Dengan demikian, RS Kristen akan bergerak ke arah yang jelas dengan langgam kerja (action plan) yang terstuktur.(***)
Labels:
Pelkesi
MODEL PEMBANGUNAN NIAS BARAT
Nias Barat setelah pemekaran dari kabupaten induk, sedang berproses memulai tahapan pembangunan untuk mencapai maksud dan tujuan pemekaran itu. Tentunya dimulai dari rekrutmen kepemimpinan daerah dan mengisi pos-pos pelaksana program pemerintah, seperti pelaksana tugas bupati, sekwilda, kepada dinas. Juga persiapan legislatif, sedang dilaksanakan kampanye dan pemilihan para caleg. Sekarang sedang menyatu dengan kabupaten induk, akan tetapi bila pemerintahan telah efektif, para legislatif dari daerah pemilihan di daerah ini, otomatif akan menjadi legislatif di Kabupaten Nias Barat.
Tentunya ini harus disambut baik. Tetapi yang agak dilupakan tiang lain dalam pembangunan suatu daerah, yaitu swasta dan masyarakat. Swasta yang akan menggerakaan perekonomian, yang mendorong peningkatan pendapat masyarakat, seperti perdagangan, retail, dst. Sedangkan masyarakat adalah penguatan civil society. Karena itu, kedua sektor itu harus dipikirkan secara serius. Sebab pemerintah hanya berfungsi sebagai regulator dan menyusun kebijakan. Sedangkan swasta dan masyarakat adalah penggerak dan beneficiaries program pembangunan. (***)
Tentunya ini harus disambut baik. Tetapi yang agak dilupakan tiang lain dalam pembangunan suatu daerah, yaitu swasta dan masyarakat. Swasta yang akan menggerakaan perekonomian, yang mendorong peningkatan pendapat masyarakat, seperti perdagangan, retail, dst. Sedangkan masyarakat adalah penguatan civil society. Karena itu, kedua sektor itu harus dipikirkan secara serius. Sebab pemerintah hanya berfungsi sebagai regulator dan menyusun kebijakan. Sedangkan swasta dan masyarakat adalah penggerak dan beneficiaries program pembangunan. (***)
Labels:
Nias
23.5.09
BELAJAR BLOGGING
Jakarta. Beberapa waktu yang lalu, saya mencoba membuat akun blogging di blospot. Dari informasi dan pencarian sebelumnya, saya berkesimpulan bahwa menulis sesuatu di blogging sangat baik. Apa saja yang dilihat, dirasakan, diamati ataupun dilakukan dituliskan dalam blog. Ini seperti diary, kalau punya pengalaman waktu dulu. Tetapi dengan blog disimpan di server.
Banyak manfaatnya: berbagi dengan kawan, belajar menulis, dan bisa menjadi bahan refleksi pada suatu waktu.
Hanya saja, saya mengalami kusulitan dalam format dan editing. Kalau tulisan panjang-panjang kan tidak enak tampilannya. Apalagi kalau menuliskan banyak subyek. Karena itu dibutuhkan tambatan lanjutan (atau read more) pada halaman berikutnya. Teman saya, SF/SM, yang kenal melalui komunikasi mailing-list GMKI-Forum, menemukan seseorang yang bisa membantu. Namanya Sastra Manurung
Sekarang saya sedang mencoba. Mudah-mudahan berhasil. Thanks Bung Sastra. ***
Banyak manfaatnya: berbagi dengan kawan, belajar menulis, dan bisa menjadi bahan refleksi pada suatu waktu.
Hanya saja, saya mengalami kusulitan dalam format dan editing. Kalau tulisan panjang-panjang kan tidak enak tampilannya. Apalagi kalau menuliskan banyak subyek. Karena itu dibutuhkan tambatan lanjutan (atau read more) pada halaman berikutnya. Teman saya, SF/SM, yang kenal melalui komunikasi mailing-list GMKI-Forum, menemukan seseorang yang bisa membantu. Namanya Sastra Manurung
Sekarang saya sedang mencoba. Mudah-mudahan berhasil. Thanks Bung Sastra. ***
Labels:
Pembelajaran
22.5.09
[How To] READ MORE
Cara makainya: Ada 2 jenis pembuatan entri yaitu, Edit HTML dan Compose, Coba lihat bagian edit html, tulisan yang akan ditampilkan terletak pada bagian sebelum kode span class="fullpost", sedangkan tulisan yang ada diantara span class="fullpost" dengan /span merupakan tulisan yang akan dilihat setelah di klik readmore..nya
------- Read More mulai dari sini------------------------------
Jika anda membuat readmore, disarankan kolom komentar postingan tepat berada di bawah postingan. Jika tidak, maka komentar akan ditulis berulang-ulang. Edit kolom komentarnya tepat berada dibawah postingan.
------- Sampai disini. Diantara fullpost dan spannya-----------
------- Read More mulai dari sini------------------------------
Jika anda membuat readmore, disarankan kolom komentar postingan tepat berada di bawah postingan. Jika tidak, maka komentar akan ditulis berulang-ulang. Edit kolom komentarnya tepat berada dibawah postingan.
------- Sampai disini. Diantara fullpost dan spannya-----------
Subscribe to:
Posts (Atom)